Hari ini merupakan hari pertama saya liburan di musim panas. Libur panjang yang telah dinanti-nantikan. Sebagian kawan-kawan ada yang mengisi libur panjangnya dengan melepas rindu dengan keluarga di Indonesia (pulkam). Sebagian lagi ada yang tetap di Cairo dengan segala aktifitas yang bermacam-macam. Adapun saya termasuk golongan yang kedua, tidak pulkam.

Di hari libur pertama ini, saya diajak salah seorang teman saya untuk berziarah ke makam-makam para ulama yang ada di Cairo + jalan-jalan melihat peninggalan-peninggalan bersejarah yang ada di sekitar Bab Al-Futuh sampai Khan Khalili. Saya dan 2 orang teman saya (Riduan dan Rasyidi) berangkat sama-sama dari Qatamea menuju Sayyidah Aisyah. Sesampainya di Sayyidah Aisyah, kami mengisi perut dulu sebentar sebelum berziarah ke makam Imam Jalaluddin As-Sayuti. Riduan dan Rasyidi lebih memilih Kusyari sedangkan saya lebih memilih makan Ta’miyah Bil Biedh.

Setelah selesai berziarah ke makam Imam Jalaluddin As-Sayuti, kami menaiki angkutan dengan tujuan Bab Al-Sya’riah. Disana kami berziarah ke makam Syekh Abdul Wahab As-Sya’rani. Sayang, makam beliau yang terletak di dalam mesjid belum di buka. Akhirnya kami menyebrang jalan menuju makam Imam Ar-Ramli. Makam beliau pun tutup juga, namun tak lama datang seorang anak muda yang membawakan kunci makam tersebut. Akhirnya kami pun bisa masuk ke dalam. Nah mulai dari makam Imam Ar-Ramli kami tidak menggunakan angkutan lagi, namun hanya jalan kaki untuk menuju makam-makam ulama lain yang akan kami ziarahi. Entah saya sendiri bingung bagaimana kawan saya (Riduan) ini bisa menghapal letak makam-makam tersebut. Bukan hanya perkampungan kumuh yang kami lewati, bahkan komplek kuburan pun kami lewati. Jalan-jalannya tidak beraspal, penuh debu, bau, bahkan tak jarang kami berselisihan dengan gerombolan anjing.
Komplek Kuburan

Beberapa tahun saya di Cairo, ini pertama kali saya menziarahi makam Ibnu Hisyam seorang pakar ilmu tata bahasa (Nahwu), padahal di fakultas bahasa arab, buku karangan beliau (Awdhah Al-Masalik) selalu menjadi buku wajib tiap tahun. Kami terus menyusuri komplek kuburan untuk menuju makam Syekh Ali Al-Khawash, Syekh Nuruddin Al-Bayyumi dan Syekh Muhammad Kamaluddin Ad-Damiry. Saat melewati rumah penduduk, kami sering sekali di kira orang-orang setempat bahwa kami orang China. Entah dari mana mereka melihat hingga mengira kami orang China. Padahal mata kami gak sipit, terus kulit kami juga gak putih, tapi kok di kira orang China. Hehehe..
Bab Al-Futuh

Karena sudah cukup lelah dan cuaca juga panas sekali, kami beristirahat di Mesjid Hakim. Mesjid yang dibangun pada tahun 380H/990M oleh Khalifah Aziz pada dinasti Fatimiah ini termasuk salah satu objek wisata. Dari luar, mesjid ini terlihat indah sekali dengan ornamen-ornamennya yang khas. Sungguh indah. Kami pun tak ingin kehilangan kesempatan untuk mengabadikannya dengan camera pocket yang ada.
Halaman Mesjid Hakim

Sudah puas jepret sana jepret sini, kami meneruskan perjalanan menyisir komplek pertokoan sampai pada kawasan Khan Khalili (Makam Sayyidina Husein). Kami terus saja berjalan sampai di Mesjid Azhar, dan di sanalah kami melepaskan puncak kelelahan kami.
Mesjid dan Madrasah Sulthan BarquqRiduan dan Rasyidi

Advertisements